Widget HTML Atas

Sedekah dari Hutang

Setiap Kisah Terselip Hikmah

Baca 3 x kisah ini dengan pelan dan santay saja sista & Bro
,Yuuk sama2 direnungkan ...

Al-awwal saya mohon maaf dengan tidak mengurangi rasa hormat saya dengan anda yg membaca postingan ini, tiada bermaksud guru-menggurui dsb , yuk kita sama2 menapaki kisah ini dengan cerdas.

siapa yang tahu ?? kita sebagai pembelajar bisa meng-implementasikannya sama2,pelan2 saja  untuk tidak selalu menjadi manusia Pelit-Kikir-Tamak dan Perhitungan.

Amiin ...
***
Sebuah mushalla  rencananya  hendak  dibangun  di  sebuah  perumahan  di  daerah  Jl. Padat Karya kelurahan Sei.Andai,  Banjarmasin Utara.

Malam itu awal bulan Sya'ban beberapa tahun yang lalu para penghuni perumahan  bertekad  ingin  menjalani  shalat  Tarawih  bersama  di  mushalla  yang  akan  mereka  bikin.  Semua  warga  dikomandani  pak  RT  tengah  bermusyawarah.  Satu  kata  bulat,  "Kita  harus  punya  mushalla  saat  bulan  puasa tahun ini menjelang!"

itulah  cita-cita  mulia mereka  semua.  Dan  masing-masing mereka  berinfaq dan  berwakaf  di jalan  Allah  dengan harta terbaik yang mereka miliki.

Terdengar suara pak RT menanyakan satu per satu warga yang hadir, "Pak anu mau nyumbang berapa...,  bapak fulan mau sedekah  berapa....?" Lalu setiap  warga yang  hadir dengan antusias  menjawab dengan  harta yang hendak mereka sumbangkan.

Ada  yang  berinfak  dalam  ratusan  ribu  rupiah,  juga  ada  yang  berinfak  dalam  jutaan  rupiah.  Sebagian  mereka ada juga yang memberikan dalam bentuk material banguna.

Semua  mereka  seolah  berlomba  memberikan  harta  terbaik  yang  mereka  miliki  untuk  membangun  rumah Allah Swt. Semua terlihat begitu antusias untuk membangun mushalla di lingkungan mereka dalam tempo kurang  dari sebulan.

Malam itu juga ada seseorang yang bernama Arif ( Nama disamarkan ) yang berkomitmen untuk menyumbang seluruh lantai  keramik  yang  diperlukan  mushalla.  Itulah  yang  ia  janjikan  kepada  pak  RT  dan  seluruh  peserta  rapat.

Sengaja  ia  menyumbang  lantai  keramik,  sebab  ia  beranggapan  bahwa  setiap  orang  akan  menggunakannya untuk berdiri dan sujud oleh karena itu akan mendapat pahala yang lebih banyak dari  material bangunan lainnya. Setidaknya itulah anggapannya!

"Saya  insya  Allah  mau  menyumbang  semua  lantai  keramik  yang  diperlukan  mushalla  ini!"  seru  Arif.  "Apakah  semua  lantai  keramik  atau  sebagiannya  saja,  pak  Arif?"  tanya  ketua  RT  menegaskan.  "Semuanya, insya Allah, pak!" tandas Arif. Arif tidak khawatir untuk menutupi sumbangan seluruh lantai keramik mushalla.

Di benaknya esok pagi  ia  akan  meminta  orang  tuanya  di  Barabai,  neneknya  di  Negara,  sepupunya  di  Buntok,  pamannya  di  Sampit, bibinya di Magelang dan seluruh saudaranya untuk turut menyumbang.
"Insya Allah bila dijinjing  ramai-ramai, tidak akan ada beban yang berat!" gumamnya.

Benar  juga... begitu  Arif menghubungi seluruh kerabatnya, mereka semua bersedia turut menyumbang  pembelian lantai  keramik mushalla.  Hati  Arif pun tenang.  Ia senang  telah  bisa menyumbang dan  lebih  senangnya lagi ia dapat mengajak keluarganya untuk melakukan kebaikan di jalan agama ini.

*** Bulan  Ramadhan 7  hari lagi akan  menjelang.  Bangunan  mushalla atas izin Allah sudah rampung kurang  lebih 65%. Namun untuk bisa dipakai shalat, setidaknya harus sudah berlantai hingga orang-orang akan  merasa nyaman saat berdiri dan sujud.

Maka malam itu adalah  rapat  kesekian kalinya digelar ketua  RT  bersama  panitia  pembangunan  mushalla.  Dalam  rapat  itu,  Arif  ditanya  tentang  kapan  lantai  bisa  dikirimkan ke mushalla. Dengan tenang ia berujar, "Paling lambat lusa, saya akan kirim lantai tersebut!"

Namun  apa  yang  terjadi  saat  ia  menghubungi  satu  per  satu  keluarga  yang  sudah  berjanji  untuk  menyumbang. Sungguh aneh, semua keluarga yang berjanji sepertinya amat kompak dalam satu alasan.  Mereka semua BOKEK, alias lagi gak punya uang!

"Celaka...!"  keluh  Arif.  Padahal  ia  sendiri  pun  sedang  tidak  punya  duit.
Bagaimana  ia  bisa  memberi  jawaban atas hal ini kepada warga lingkungannya. Padahal Ramadhan akan tiba sebentar lagi. Tidak ada  uang  yang  bisa  ia  gunakan  untuk  membeli  keramik,  namun  ada  beberapa  kartu  kredit  di  dompetnya  yang  dapat  ia  gunakan.  Saat  hendak  menggunakannya  terbesit  di  benaknya  wajah  angker  sang  istri  berkata mengancam, "Awas ya kalau kamu berani pakai kartu kredit lagi. Aku akan minta cerai!!!'

Ya, Arif yang bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional namun ia adalah orang yang susah menjaga  nafsunya  dalam  penggunaan  kartu  kredit.
Sering  kali  rumahnya  disatroni  debt-collector  tak  bermoral  yang  bicara  kasar  bahkan mengancam  di  rumahnya.  Istri  dan  anak-anak  Arif  sudah  tidak  kuat  dengan  teror para debt-collector. Karena itu ia pernah diancam oleh sang istri dengan ultimatum tuntutan cerai.

Kini Arif berada di dua ujung tanduk. Antara membeli keramik mushalla dengan kartu kredit & ancaman  cerai  dari  sang  istri.  Setelah  menimbang  sebaik  mungkin,  ia  bulatkan  tekad  untuk  membeli  lantai  keramik.  "Urusan  masalah  kartu  kredit,  itu  urusan  nanti!"  gumamnya.

Lalu  ia  pun  pergi  ke  kawasan  Pasar Lima - Harum Manis, Banjarmasin. untuk memilih lantai keramik yang cocok. Usai ia memilih lantai  keramik,  ia  pun  menggesek  kartu  kreditnya  dengan  total  tagihan  Rp.  3,8  juta.  Tak  lupa  ia  mengucap  bismillah.

Maka  Arif  kini  bersedekah  lantai  keramik  di  jalan  Allah  meski  dengan  cara  berutang  lewat  kartu kredit.

***

Jelang  Ramadhan  pun  ada  agenda  keluarga  yang  sudah  dirancang  oleh  Arif.  Ia  ingin  tahun  ini  dapat  mudik ke kampung halaman dengan berkendaraan roda-dua nya .
Hari itu ia memberanikan diri datang  ke  manager  SDM  tempatnya  bekerja  sambil  berkata  dengan  penuh  semangat,  "Pak  boleh  gak  saya  mengajukan  permohonan  kredit  mobil  bekas?!"

Sayangnya,  Arif  mengajukan  permohonan  itu  pada  momen yang tidak tepat.
Awal Ramadhan itu di perusahaannya sedang ada rasionalisasi ( baca : perampingan) pegawai besar- besaran.

Sebuah  langkah  yang  amat  pahit  dialami  oleh  tim  SDM,  sebab  dari  atas  mereka  mendapat  tekanan.  Sedangkan  dari para  pegawai  di  bawah  mereka mendapat  kecaman. Dalam  kondisi  tim  SDM sedang pusing, Arif malah mengajukan kredit mobil. Dengan sengit manajer SDM itu berkata, "Tidak ada  fasilitas seperti itu saat ini. Anda tidak paham ya bahwa kami sedang amat sibuk?!"

Mendapat tanggapan seperti itu, maka Arif pun beringsut. Namun mungkin ini adalah  balasan Allah Swt setelah sedekah lantai keramik itu sudah  digunakan oleh  warga perumahan untuk lebih dari seminggu. Siang itu usai shalat Zhuhur dan mendengarkan kuliah agama di mushalla kantor, Arif kembali masuk ke  ruang kerjanya  dilantai bawah. dan hp-nya  berdering  dari dalam saku celananya. Ternyata di dalam hp  itu adalah suara manager SDM yang memintanya datang segera. Arif  pun  datang.

Sesampainya  di  ruangan  manager  SDM  ia  disuruh  menunggu  di  ruangan  meeting.  Sampai saat itu  Arif belum tahu ada  pasal  apa manager SDM memanggilnya. Arif  berprasangka  buruk,  "Mungkinkah aku termasuk karyawan yang akan dirumahkan?" lamunnya.

Lama  ia  menunggu  hingga  akhirnya  sang  manajer  SDM  datang  ke  ruang  meeting.  Di  tangannya  ada  sebuah  folder berisikan banyak  berkas.  Folder  itu dibanting di  atas  meja, dan  Arif terkejut  mendengar  folder itu dibanting.

Sang manajer SDM itu kini sudah duduk berseberangan dari Arif. Ia membuka berkas yang ada di dalam  folder lalu ia dapatkan secarik kertas yang bentuknya seperti kertas cheque. Dengan  cara  yang  tidak  sopan,  selembar  kertas  kecil  itu  dilemparkan  ke  arah  Arif  dan  ia  pun  menangkapnya.
"Surat  apa ini, Pak?!" tanya Arif.  Dibenaknya ia masih menduga  bahwa ia bakal di-PHK  dan ini adalah surat pemberitahuannya. "Baca saja dan jangan banyak tanya!" bentak manajer SDM. Arif  membaca  selembar  kertas  itu  yang  ternyata  adalah  sebuah  voucher  pembelian  sebuah  mobil.  Di  dalamnya terdapat nama lengkap Arif, nomor induk kepegawaiannya dan sebuah nominal sebesar Rp 60  juta. Voucher pembelian mobil itu ditandatangani oleh Direktur Operasional. Usai membaca barulah Arif mengerti bahwa kertas itu ada sebuah persetujuan direktur operasional atas  fasilitas  kredit  mobil  bekas  untuk  dirinya.  Namun  hal  yang  tidak  ia  mengerti  adalah  mengapa  sikap  manajer SDM menjadi garang seperti ini? 

 "Saya paling tidak suka bila pak Arif main belakang seperti ini...!!! Saya khan sudah bilang kepada bapak  bahwa perusahaan tidak menyediakan fasilitas mobil untuk karyawan dalam masa-masa seperti ini, lalu  kenapa bapak bicara langsung kepada direktur operasional...? Itu sama saja mencoreng reputasi saya!!!"  ....mestinya hal itu langsung pak arif kemukakan ke saya aja dong !?

Arif hanya  terdiam mendengar celotehan  sang manajer.
Rasanya  ia belum pernah menceritakan hal ini  kepada siapapun selain  kepada  manajer  SDM,  apalagi sampai  menghadap direktur.  Namun  ia gembira  dalam hati sebab  ia membayangkan bahwa  lebaran  ini  ia  dapat  mudik  ke  kampung  bersama  keluarga dengan mobil "baru". Terserah manajer SDM apakah dia mau marah atau tidak yang penting Arif sudah  mendapatkan voucher pembelian mobil di tangannya.


***

Sore  itu  Arif  pulang  menuju  rumahnya  di  Sei.Andai  dengan  hati  penuh  kegembiraan.   Sesampainya  di  rumah kira-kira  pukul setengah  enam  sore.  Ia  bernyanyi  riang  dan  terus  bernyanyi.  Ia tidak masuk ke  kamar  untuk  berganti  pakaian  namun  bahkan  ia  duduk-duduk  di ruang  tamu.  Ada  gelagat  yang  tidak  biasa sepertinya pada diri Arif, hingga istrinya pun menanyakan ada apa gerangan.


Arif masih terus bernyanyi gembira sambil mengeluarkan dari tas kerja secarik kertas voucher pembelian  mobil itu lalu ia letakkan di atas meja. "Apa  itu,  Pa?"  tanya  sang  istri.  "Baca  saja  sendiri!"  tukas  Arif  sambil  terus  bernyanyi.  Istrinya  pun  membaca voucher itu. Namun tidak  seperti dugaan Arif, sang istri tidak terlihat gembira membacanya.  Bahkan sang istri pergi ke arah lemari dan mengambil secarik kertas. Bila tadi Arif meletakkan secarik kertas di atas meja. Kini sang istri pun melatakkan secarik kertas pula di  atas meja. "Apa itu, Ma?!" Arif balik bertanya. Sang istri menukas dengan ketus, "Baca saja sendiri!!!" Ternyata itu adalah surat tagihan penggunaan kartu kredit. "Celaka!" gumam Arif. Akhirnya dia ketahuan  oleh sang istri telah menggunakan kartu kredit untuk pembelian lantai mushalla. Ia amat takut sekali bila  sang istri menuntut cerai. "Ayo cepat buka...!" sang istri berkata dengan suara meninggi. Arif hanya diam tak berkutik, sungguh ia  amat merasa takut. Tidak sedikit pun gurat kebahagiaan tersisa di wajahnya. Dengan perlahan ia buka amplop tagihan kartu kredit itu dan kemudian ia baca seluruh isi surat. Namun  anehnya, ia tidak mendapati tagihan senilai Rp3,8 juta atas pembelian lantai keramik!!! Seolah tidak percaya,  ia ulangi  membaca dan  tetap saja  ia tidak mendapatkan nilai  tagihan  atas  lantai  keramik!!!


"Subhanallah...., kok  bisa  gak  ada ya?" Arif  berteriak  keheranan.  Ia pun menelpon pihak bank dan lagi- lagi anehnya  bank  tidak  membaca  pada  data  mereka  bahwa  Arif  melakukan  transaksi  sebesar  Rp  3,8  juta.

***

Itulah  kisah  yang  Arif  sampaikan  kepada  saya  bahwa  ia  telah  menuai  pertolongan  Allah  Swt  untuk  pembelian mobil,  namun  apa  yang  ia  sumbangkan  untuk  rumah-Nya  dengan  cara  berhutang  rupanya  tidak dianggap demikian oleh Allah Swt. 

*** TAMAT***


Pembaca, coba kita renungkan sambil meneruskan membaca kisah ini ,  Disekeliling kita  ada banyak kejadian yg mirip dengan  kisah  nyata yg baru kita  baca seperti kisah diatas  tadi,  bahkan  sering  kita  temui  sumbangan  yg  bertemakan  pembangunan  mushala  atau  langgar  atau  mesjid yg dibantu “ relawan-panas-terik ”  yg biasa nunggu sumbangan di pinggir atau tengah jalan raya ,  semua  hanya  demi  minta  sedekah  se-relanya  dari  pemakai  jalan  yg  lewat,  semua  untuk  kepentingan  agama bukan?

Ada  juga peminta sumbangan yg jalan kaki mampir dari rumah kerumah ,  ngetuk2 pintu pemilik  rumah  hanya  untuk  minta  bantu  serelanya  untuk  sumbangan  sedekah  ;  Panti  Asuhan  –  Pembangunan  pesantren – Mushala dan lain sebagainya yang pun sedekah itu tetap bertemakan dijalan Allah

Seperti dibanjarmasin sudah lama bertebaran peminta-minta sedekah yg  dari peminta usia ; anak kecil  –  remaja  –  dewasa  –  orang  tua  bahkan  peminta  sedekah  yg  sudah  lanjut  usia  baik  dari  segi  fisik  yg  memang  terlihat  kurang  atau  tidak  mampu  maupun  yg  terlihat  mampu2  saja    fisiknya  yg  sebenarnya  segar  bugar…dan  peminta  itu  terkesan  sdh  menjadi  pekerjaan  tetapnya  yg  dikoordinir  maupun  tidak  dikoordinir oleh seseorang..

Terlepas dari itu..dan terlepas dari semua dugaan yang tidak baik yg sering hinggap dan terdoktrin serta  ter-patri  dipikiran  kita  bahwa  kita  selalu  pilih-pilih  dalam  hal  sedekah,  kita  liat  orangnya  sipeminta  sedekah..kita  liat  keperluannya  …kita  liat  kondisi  dan  situasi  saat  sipeminta  datang  menghampiri  kita..kita liat ini – itu dulu..terlalu banyak pikir dulu Bukannya kita terketuk hati untuk  memberi sedekah…kita biasa mengucap ; lewati aja ya..atau gak ada  orangnya..atau gak ada uang kecil dan lain2                                                                                                                                                          Demikianlah sebuah kisah yang menakjubkan tentang pertolongan Allah Swt melalui sedekah. Tidakkah  Anda meyakininya?atau kapan anda akan meyakininya????

Sadarlah  bahwa  Allah  pasti  akan  menilai  dan  membalas  dalam  bentuk  CASH / Balasan yg bernilai CASH  kepada  kita  cepat  atau  lambat  jika  kita  tidak  ragu  bersedekah  dijalan  Allah  dan  kepada  yg  membutuhkan  sedekah  itu..ikhlas  atau tidak, ALLAH pasti membalasnya dengan nilai
1 x sedekah = Balasannya  

Balasannya = Nilai sedekah x 7 x 700 ( Pasti !!! blm sekarang, minimal besok2 )
Gak percaya ( ato msh itung2an ..wkwk )